Sebenarnya aku gak punya bakat buat bikin FF apalagi FF genre Sad Romance :(
Aku tak tau mengapa ini semua terjadi padaku. Aku sungguh heran kenapa dia malah memilih orang lain dibandingkan diriku, padahal sebenarnya dia juga sangat mencintaku. Kutatap sekeliling, aku masih ingat, ingat betul, saat pertama kali diriku berkenalan dengannya disini, ditempat ini.
(Flashback)
"Aiiihhh sh*t!!! Apa-apaan nih dompetku hilang. Padahal tadi aku masukkin saku celana belakang. Hassshhhhh gimana bisa pulang ke dorm kalau gini ceritanya, mana aku gak ada uang dikantong celana pula. Ahhh sial bener hari ini. Damn!!!" umpatku kesal. Apa jangan-jangan dompetku ketinggalan di restoran tadi ya? Ahhh, aku harus mencarinya kesana, jika tidak bisa mampus gak bisa pulang, mana gitu ini si Seungri sms lagi "Hyung-ah, eodieseo? YG sajangnim mencarimu. Katanya dirimu cuma pergi sejam, tapi ini sudah hampir 2 jam lamanya hyung. Cepatlah balik ke Building sebelum YG sajangnim marah ^^" Aaahhhh tak peduli diriku dengan ancaman Seungri!! Aku harus menemukan dompetku!!! Kulangkahkan kakiku menuju restoran tempat aku makan tadi. Tiba-tiba, "Bruukkkk......"
"Eh kalo jalan liat-liat dong, emang ini jalan cuma milikmu seorang?" bentakku ke orang itu.
"Mianhaeseumnida, Ajussi" kata orang itu ketakutan.
"Hah? Kau panggil aku Ajussi? Aku belum tua! Panggil apa kek gitu, jangan Ajussi pokoknya" sergahku seraya membersihkan celanaku yang kotor terkena debu.
"Ne, jeongmal mianhaeseumnida, oppa" kata orang itu lagi, lalu berdiri dan membungkuk sebagai tanda minta maaf. Saat dia selesai membungkuk, secara tidak sengaja kami bertatapan muka.
"Mianhaeseumnida oppa" kata gadis itu dengan nada yang menurutku bahkan amat sangat sopan sekali.
"Ah, ne gwaenchanha. Lain kali kalo jalan sambil liat ya. Oh ya maaf tadi karena omonganku yang terlalu kasar dan membentak dirimu. Kalau boleh tahu nama kamu siapa?" tanyaku kepada gadis yang terlihat sangat imut sekali, dengan mengenakan gaun casual dengan pita yang bercorak hati yang terpasang di kepala sebelah kiri.
"Nae ireumeun Ji Eun imnida, oppa" kata gadis itu memperkenalkan dirinya.
"Youngbae imnida, bangapta ne? Oh ya aku tanya, kenapa kamu memanggilku oppa? Memang umur kamu berapa, ji eun-ah?" tanyaku penasaran mengapa dia memanggilku oppa, tapi sepertinya aku yakin dia masih dibawah 20 tahun.
"18 tahun oppa, oppa sendiri?" tanya dia balik.
"Masih muda rupanya, oppa sudah 23 tahun" kataku seraya tersenyum.
"Oppa, mianhae sebelumnya. Bisakah oppa tidak senyum seperti itu?" ucap dia yang terlihat salah tingkah.
"Mwoya? Kau tidak suka aku tersenyum, eo?" kataku sedikit terperanjat.
"Aniya, bukan begitu, oppa. Senyummu terlalu indah, aku gak berani menatapnya" kata ji-eun malu-malu sambil menundukkan wajahnya.
"Geurae?" tanyaku tidak percaya.
"Ne, oppa" katanya seraya tersenyum. Aahhh senyumannya manis sekali, batinku.
"Oh ya, oppa mau kemana? Kok terlihat buru-buru?" tanyanya lagi.
"Mhhh..... aku mau mengambil dompetku yang ketinggalan di Restoran X" ucapku.
"Ohh jadi oppa yang punya dompet itu. Tadi aku melihat dompet oppa jatuh, tapi oppa gak kerasa gitu saat dompet oppa jatuh. Untung gak ada yang liat dompet itu, jadinya aku ambil. Ini dompetnya mau aku kasih ke Pos Polisi, tapi untung ketemu sama oppa. Nih oppa dompetnya, hehe" jelas dia panjang lebar lalu mengeluarkan dompet milikku yang dia temukan.
"Aigooo, jeongmal gomapta Jieun-ah" kataku sambil tersenyum.
"Aniyo oppa. Aduh oppa kan senyum lagi" kata dia yang saat melihat diriku tersenyum langsung menundukkan kepalanya.
"Ishh waeyo jieun-ah? Oppa jelek ya? Huuh" kataku berpura-pura ngambek.
"Ani bukan itu maksudku, oppa. Aku gak kuat liat senyumannya oppa. Oppa kalau senyum, matanya juga ikutan senyum" katanya malu-malu. Ya, memang sih aku punya smiling eyes, tapi aku tak pernah sekalipun mempermasalahkannya. Baru kali ini aku menemukan orang yang sangat begitu terpesona dengan senyumanku.
"Aiisshhh, jangan dibahas deh. Oh ya apa kamu sudah makan? Aku mau beli makanan" tanyaku.
"Ani oppa, aku sudah makan" katanya setengah menolak.
"Ayolah, anggap saja ini permintaan terima kasihku karena dirimu sudah menemukan dompetku" kataku seraya menggandeng tangannya, dan dia pun akhirnya menurut. ..
Sesampainya di restoran
"Pelayan, yeogie iriwabwa" kataku memanggil pelayan restoran.
"Ne, ajussi? Anda mau pesan apa?" tanya pelayan itu.
"Mh... apa kau tidak hapal apa yang sering aku makan disini" kataku sedikit merajuk.
""Aigoo, jeongmal mianhanda ajussi-ah. Geuraeyo, tunggu sebentar" kata pelayan tersebut pamit.
"Hei, kau melupakan seseorang. Kenapa kau tidak menanyakan dia? Dia juga lapar" kataku setengah berteriak.
"Aigooo, lupa. Maaf ajussi. Anda pesan apa nona?" tanya pelayan itu ke Jieun.
"Hm, aku mau menu yang sama seperti yang Youngbae oppa biasa makan disini" kata Jieun enteng.
"Jinjja?" kataku dan pelayan yang nyaris bersamaan.
"Waeyo?" kata Jieun penasaran karena melihat ekspresiku yang kaget.
"Oppa tidak yakin dirimu akan suka dengan menu yang biasa oppa pesan"
"Ahhh, aku hampir semua makanan suka, oppa" katanya tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Inget ya, menu itu 2 porsi, kalau tidak sesuai, inget" kataku sambil memberikan kode.
"Eh tunggu tunggu" seruku lagi kepada pelayan itu.
"Apa lagi?" kata pelayan itu.
"Jieun-ah, kamu pesan minum apa?" tanyaku ke Jieun.
"Jus jeruk saja oppa" ujarnya sambil sedikit menyunggingkan bibirnya.
"Minumnya jus jeruk sama Ice Cappucino. Ppaili!" kataku sedikit membentak, padahal sebenarnya aku hanya ingin mengerjai pelayan itu dengan berpura-pura sedikit marah kepadanya.
"Oppa, kenapa sih oppa marahin dia itu ihh?" tanya Jieun.
"Haha, tenang, oppa cuma ingin ngerjain dia kok" kataku santai.
"Oh ya oppa, oppa sudah berapa lama langganan di restoran ini?" tanya Jieun memulai pembicaraan.
"Mh... sekitar hampir 9 tahun, emang kenapa?" tanyaku balik.
"Aniya, aku kok liat tadi oppa begitu akrab dengan hampir semua pelayan disini, kecuali pelayan laki-laki yang satu itu" kata Jieun sembari menunjuk pelayan yang dia maksud.
"Oh dia, heuhh dia mah orangnya rada susah gitu diajak bicara. Dieeemmm mulu bawaanya" kataku memberi tanggapan.
"Iyakah oppa?" tanyanya tak percaya.
"Kalo gak percaya samperin langsung deh orangnya" kataku dengan nada setengah datar.
"Eh? Samperin dia? Ogah ah oppa, aku kan selalu malu tiap deket ama cowok" katanya.
"Berarti sama oppa juga malu dong?" kataku sedikit ngambek untuk memancing dia.
"Ah nggak lah oppa, aku udah ngerasa nyaman deket ama oppa, biarpun kita baru kenal 1 hari" katanya santai.
"Ah masa?" tanyaku kepadanya nampak seolah-olah aku tak percaya, padahal aku udah tau itu.
"Iya beneran oppa. Eh oppa kita tukeran nomer hp yuk biar nanti kalau ada waktu kita bisa bertemu lagi oppa"
"Hm, geurae. Nih nomernya kamu catat sendiri ya" kataku seraya memberikan hp ku kepadanya.
"Ne, oppa. Oh ya itu nomerku udah aku tulis sendiri di hp nya oppa" katanya yang kemudian dia memberikan hpku lagi.
"Oh ya, rumahmu di daerah mana hm?" tanyaku iseng.
"Daerah Hajoong-Dong, oppa tau?" tanya dia balik.
"Ya tau lah, itu kan 1 distrik ama Hapjeong-Dong" kataku sedikit nyegir.
"Oh ya kamu pulang naik apa?" tanyaku beberapa saat kemudian.
"Jalan kaki oppa" katanya lesu.
"Aihhh, ya udah pulang ama oppa aja. Oppa anterin, mau kan?" kataku menawarkan.
"Jinjja? Oppa mau mengantar aku?" tanya dia sedikit terkejut.
"Ne" jawabku singkat, namun penuh arti.
Lalu kamu pun makan bersama karena pesanan kami telah datang. Dia terlihat menikmati sekali dengan menu yang menurutku bahkan sangat aneh karena ada orang yang suka ama selera makananku. Kutatap terus saat dia makan, sungguh sangat anggun, hingga tak sadar dia telah menyelesaikan makannya.
"Loh oppa? Kok kak dimakan?" tanyanya setelah dia meneguk segelas jus jeruk yang dia minta tadi.
"Ahh, mhhh mianhae tadi oppa melamun" jawabku sekedarnya karena takut ketahuan jika aku mengamatinya dari tadi.
"Aihhh oppa nih, dimakan dulu sana, nanti dingin sayang loh oppa" katanya sambil meneguk sisa jus jeruknya.
"Ne, geuraeyo" jawabku sedikit canggung.
"Eh oppa, tau gak? Kalo oppa itu cuma satu-satunya orang yang aku panggil oppa loh" kata dia sesaat setelah aku makan.
"Mwoya?" tanyaku sedikit tak percaya.
"Iya oppa, hihihi. Aduh makasih lho oppa udah beliin aku makan hehe" ujar dia singkat.
"Ah, gak usah dipikirin lah, hehe" kataku santai.
Setelah makan, kami pun meninggalkan restoran itu dan berjalan menunggu bus di halte bus. Kami pun mengobrol layaknya kami sudah kenal lama sekali, padahal baru kenal 2 jam yang lalu.
(Flashback End)
Peristiwa itu masih terekam sangat jelas di benakku, hingga aku serasa tak percaya jika dia tenyata tidak seperti saat pertama aku mengenal dirinya, sakit sekali hatiku terkhianati seperti ini. Hingga bunyi handphone menyadarkanku dari lamunan mengingat masa laluku, "Hyung, eodieseo? Se7en hyung ada perlu denganmu, cepatlah kembali ke building ^^ Seungri". "Ahh ada apa se7en hyung mencariku?" batinku. Langsung ku langkahkan kakiku menuju halte bus Cheonggye-cheon.
To Be Continued
.......................................................................................
Makasih ya udah mau baca FF ku yang sebenarnya gak layak buat disebut sebagai FF -_____-
Mohon kritik serta sarannya untuk kemajuan lanjutan FF ini ^^
정말 감사합니다 ^^
Namun karena ini FF pertamaku, aku harap kalian tidak menertawakan FF ku yang mungkin terlalu berbelit-belit ceritanya.
So, check this out \^o^/
Judul : The Story Only I Didn't Know
Judul : The Story Only I Didn't Know
Author : Me
Cast : Taeyang Bigbang as Youngbae; IU as Ji eun; Wooyoung 2PM as Wooyoung
Supporting Cast : Seungri Bigbang as Seungri; T.O.P Bigbang as Seunghyun; Minzy 2NE1 as Mingki
Genre : Sad Romance
Rating : (Gak tahu mau dikasih rating berapa wkwk -_-)
Karena ini adalah hasil karyaku, jangan sekali-kali meng-copy ataupun
memplagiat FF ini tanpa seijinku ^^
memplagiat FF ini tanpa seijinku ^^
Need your comment ^^ don't need your bashing!!!!
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Author POV
Suasana senja mulai menyelimuti pinggiran sungai Han. Kilauan sinar
senja matahari yang terbiaskan air sungai Han seolah membuat kita serasa
kembali ke masa-masa lalu. Kicauan burung yang terdengar semakin
membuat tentram dan damai hati.
Hari itu ramai sekali orang di Cheonggye-cheon yang memang terkenal akan keindahannya itu. Seorang pria yang sedang duduk termenung di bangku taman yang berada di Cheonggye-cheon itu.
Sesaat pria tersebut melempar batu kerikil yang ia ambil . Sejurus kemudian pria tersebut menoleh saat seseorang memanggilnya dari kejauhan..... (Intro apa nih kaga jelas -_-)
Youngbae POVHari itu ramai sekali orang di Cheonggye-cheon yang memang terkenal akan keindahannya itu. Seorang pria yang sedang duduk termenung di bangku taman yang berada di Cheonggye-cheon itu.
Sesaat pria tersebut melempar batu kerikil yang ia ambil . Sejurus kemudian pria tersebut menoleh saat seseorang memanggilnya dari kejauhan..... (Intro apa nih kaga jelas -_-)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Aku tak tau mengapa ini semua terjadi padaku. Aku sungguh heran kenapa dia malah memilih orang lain dibandingkan diriku, padahal sebenarnya dia juga sangat mencintaku. Kutatap sekeliling, aku masih ingat, ingat betul, saat pertama kali diriku berkenalan dengannya disini, ditempat ini.
(Flashback)
"Aiiihhh sh*t!!! Apa-apaan nih dompetku hilang. Padahal tadi aku masukkin saku celana belakang. Hassshhhhh gimana bisa pulang ke dorm kalau gini ceritanya, mana aku gak ada uang dikantong celana pula. Ahhh sial bener hari ini. Damn!!!" umpatku kesal. Apa jangan-jangan dompetku ketinggalan di restoran tadi ya? Ahhh, aku harus mencarinya kesana, jika tidak bisa mampus gak bisa pulang, mana gitu ini si Seungri sms lagi "Hyung-ah, eodieseo? YG sajangnim mencarimu. Katanya dirimu cuma pergi sejam, tapi ini sudah hampir 2 jam lamanya hyung. Cepatlah balik ke Building sebelum YG sajangnim marah ^^" Aaahhhh tak peduli diriku dengan ancaman Seungri!! Aku harus menemukan dompetku!!! Kulangkahkan kakiku menuju restoran tempat aku makan tadi. Tiba-tiba, "Bruukkkk......"
"Eh kalo jalan liat-liat dong, emang ini jalan cuma milikmu seorang?" bentakku ke orang itu.
"Mianhaeseumnida, Ajussi" kata orang itu ketakutan.
"Hah? Kau panggil aku Ajussi? Aku belum tua! Panggil apa kek gitu, jangan Ajussi pokoknya" sergahku seraya membersihkan celanaku yang kotor terkena debu.
"Ne, jeongmal mianhaeseumnida, oppa" kata orang itu lagi, lalu berdiri dan membungkuk sebagai tanda minta maaf. Saat dia selesai membungkuk, secara tidak sengaja kami bertatapan muka.
"Mianhaeseumnida oppa" kata gadis itu dengan nada yang menurutku bahkan amat sangat sopan sekali.
"Ah, ne gwaenchanha. Lain kali kalo jalan sambil liat ya. Oh ya maaf tadi karena omonganku yang terlalu kasar dan membentak dirimu. Kalau boleh tahu nama kamu siapa?" tanyaku kepada gadis yang terlihat sangat imut sekali, dengan mengenakan gaun casual dengan pita yang bercorak hati yang terpasang di kepala sebelah kiri.
"Nae ireumeun Ji Eun imnida, oppa" kata gadis itu memperkenalkan dirinya.
"Youngbae imnida, bangapta ne? Oh ya aku tanya, kenapa kamu memanggilku oppa? Memang umur kamu berapa, ji eun-ah?" tanyaku penasaran mengapa dia memanggilku oppa, tapi sepertinya aku yakin dia masih dibawah 20 tahun.
"18 tahun oppa, oppa sendiri?" tanya dia balik.
"Masih muda rupanya, oppa sudah 23 tahun" kataku seraya tersenyum.
"Oppa, mianhae sebelumnya. Bisakah oppa tidak senyum seperti itu?" ucap dia yang terlihat salah tingkah.
"Mwoya? Kau tidak suka aku tersenyum, eo?" kataku sedikit terperanjat.
"Aniya, bukan begitu, oppa. Senyummu terlalu indah, aku gak berani menatapnya" kata ji-eun malu-malu sambil menundukkan wajahnya.
"Geurae?" tanyaku tidak percaya.
"Ne, oppa" katanya seraya tersenyum. Aahhh senyumannya manis sekali, batinku.
"Oh ya, oppa mau kemana? Kok terlihat buru-buru?" tanyanya lagi.
"Mhhh..... aku mau mengambil dompetku yang ketinggalan di Restoran X" ucapku.
"Ohh jadi oppa yang punya dompet itu. Tadi aku melihat dompet oppa jatuh, tapi oppa gak kerasa gitu saat dompet oppa jatuh. Untung gak ada yang liat dompet itu, jadinya aku ambil. Ini dompetnya mau aku kasih ke Pos Polisi, tapi untung ketemu sama oppa. Nih oppa dompetnya, hehe" jelas dia panjang lebar lalu mengeluarkan dompet milikku yang dia temukan.
"Aigooo, jeongmal gomapta Jieun-ah" kataku sambil tersenyum.
"Aniyo oppa. Aduh oppa kan senyum lagi" kata dia yang saat melihat diriku tersenyum langsung menundukkan kepalanya.
"Ishh waeyo jieun-ah? Oppa jelek ya? Huuh" kataku berpura-pura ngambek.
"Ani bukan itu maksudku, oppa. Aku gak kuat liat senyumannya oppa. Oppa kalau senyum, matanya juga ikutan senyum" katanya malu-malu. Ya, memang sih aku punya smiling eyes, tapi aku tak pernah sekalipun mempermasalahkannya. Baru kali ini aku menemukan orang yang sangat begitu terpesona dengan senyumanku.
"Aiisshhh, jangan dibahas deh. Oh ya apa kamu sudah makan? Aku mau beli makanan" tanyaku.
"Ani oppa, aku sudah makan" katanya setengah menolak.
"Ayolah, anggap saja ini permintaan terima kasihku karena dirimu sudah menemukan dompetku" kataku seraya menggandeng tangannya, dan dia pun akhirnya menurut. ..
Sesampainya di restoran
"Pelayan, yeogie iriwabwa" kataku memanggil pelayan restoran.
"Ne, ajussi? Anda mau pesan apa?" tanya pelayan itu.
"Mh... apa kau tidak hapal apa yang sering aku makan disini" kataku sedikit merajuk.
""Aigoo, jeongmal mianhanda ajussi-ah. Geuraeyo, tunggu sebentar" kata pelayan tersebut pamit.
"Hei, kau melupakan seseorang. Kenapa kau tidak menanyakan dia? Dia juga lapar" kataku setengah berteriak.
"Aigooo, lupa. Maaf ajussi. Anda pesan apa nona?" tanya pelayan itu ke Jieun.
"Hm, aku mau menu yang sama seperti yang Youngbae oppa biasa makan disini" kata Jieun enteng.
"Jinjja?" kataku dan pelayan yang nyaris bersamaan.
"Waeyo?" kata Jieun penasaran karena melihat ekspresiku yang kaget.
"Oppa tidak yakin dirimu akan suka dengan menu yang biasa oppa pesan"
"Ahhh, aku hampir semua makanan suka, oppa" katanya tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Inget ya, menu itu 2 porsi, kalau tidak sesuai, inget" kataku sambil memberikan kode.
"Eh tunggu tunggu" seruku lagi kepada pelayan itu.
"Apa lagi?" kata pelayan itu.
"Jieun-ah, kamu pesan minum apa?" tanyaku ke Jieun.
"Jus jeruk saja oppa" ujarnya sambil sedikit menyunggingkan bibirnya.
"Minumnya jus jeruk sama Ice Cappucino. Ppaili!" kataku sedikit membentak, padahal sebenarnya aku hanya ingin mengerjai pelayan itu dengan berpura-pura sedikit marah kepadanya.
"Oppa, kenapa sih oppa marahin dia itu ihh?" tanya Jieun.
"Haha, tenang, oppa cuma ingin ngerjain dia kok" kataku santai.
"Oh ya oppa, oppa sudah berapa lama langganan di restoran ini?" tanya Jieun memulai pembicaraan.
"Mh... sekitar hampir 9 tahun, emang kenapa?" tanyaku balik.
"Aniya, aku kok liat tadi oppa begitu akrab dengan hampir semua pelayan disini, kecuali pelayan laki-laki yang satu itu" kata Jieun sembari menunjuk pelayan yang dia maksud.
"Oh dia, heuhh dia mah orangnya rada susah gitu diajak bicara. Dieeemmm mulu bawaanya" kataku memberi tanggapan.
"Iyakah oppa?" tanyanya tak percaya.
"Kalo gak percaya samperin langsung deh orangnya" kataku dengan nada setengah datar.
"Eh? Samperin dia? Ogah ah oppa, aku kan selalu malu tiap deket ama cowok" katanya.
"Berarti sama oppa juga malu dong?" kataku sedikit ngambek untuk memancing dia.
"Ah nggak lah oppa, aku udah ngerasa nyaman deket ama oppa, biarpun kita baru kenal 1 hari" katanya santai.
"Ah masa?" tanyaku kepadanya nampak seolah-olah aku tak percaya, padahal aku udah tau itu.
"Iya beneran oppa. Eh oppa kita tukeran nomer hp yuk biar nanti kalau ada waktu kita bisa bertemu lagi oppa"
"Hm, geurae. Nih nomernya kamu catat sendiri ya" kataku seraya memberikan hp ku kepadanya.
"Ne, oppa. Oh ya itu nomerku udah aku tulis sendiri di hp nya oppa" katanya yang kemudian dia memberikan hpku lagi.
"Oh ya, rumahmu di daerah mana hm?" tanyaku iseng.
"Daerah Hajoong-Dong, oppa tau?" tanya dia balik.
"Ya tau lah, itu kan 1 distrik ama Hapjeong-Dong" kataku sedikit nyegir.
"Oh ya kamu pulang naik apa?" tanyaku beberapa saat kemudian.
"Jalan kaki oppa" katanya lesu.
"Aihhh, ya udah pulang ama oppa aja. Oppa anterin, mau kan?" kataku menawarkan.
"Jinjja? Oppa mau mengantar aku?" tanya dia sedikit terkejut.
"Ne" jawabku singkat, namun penuh arti.
Lalu kamu pun makan bersama karena pesanan kami telah datang. Dia terlihat menikmati sekali dengan menu yang menurutku bahkan sangat aneh karena ada orang yang suka ama selera makananku. Kutatap terus saat dia makan, sungguh sangat anggun, hingga tak sadar dia telah menyelesaikan makannya.
"Loh oppa? Kok kak dimakan?" tanyanya setelah dia meneguk segelas jus jeruk yang dia minta tadi.
"Ahh, mhhh mianhae tadi oppa melamun" jawabku sekedarnya karena takut ketahuan jika aku mengamatinya dari tadi.
"Aihhh oppa nih, dimakan dulu sana, nanti dingin sayang loh oppa" katanya sambil meneguk sisa jus jeruknya.
"Ne, geuraeyo" jawabku sedikit canggung.
"Eh oppa, tau gak? Kalo oppa itu cuma satu-satunya orang yang aku panggil oppa loh" kata dia sesaat setelah aku makan.
"Mwoya?" tanyaku sedikit tak percaya.
"Iya oppa, hihihi. Aduh makasih lho oppa udah beliin aku makan hehe" ujar dia singkat.
"Ah, gak usah dipikirin lah, hehe" kataku santai.
Setelah makan, kami pun meninggalkan restoran itu dan berjalan menunggu bus di halte bus. Kami pun mengobrol layaknya kami sudah kenal lama sekali, padahal baru kenal 2 jam yang lalu.
(Flashback End)
Peristiwa itu masih terekam sangat jelas di benakku, hingga aku serasa tak percaya jika dia tenyata tidak seperti saat pertama aku mengenal dirinya, sakit sekali hatiku terkhianati seperti ini. Hingga bunyi handphone menyadarkanku dari lamunan mengingat masa laluku, "Hyung, eodieseo? Se7en hyung ada perlu denganmu, cepatlah kembali ke building ^^ Seungri". "Ahh ada apa se7en hyung mencariku?" batinku. Langsung ku langkahkan kakiku menuju halte bus Cheonggye-cheon.
To Be Continued
.......................................................................................
Makasih ya udah mau baca FF ku yang sebenarnya gak layak buat disebut sebagai FF -_____-
Mohon kritik serta sarannya untuk kemajuan lanjutan FF ini ^^
정말 감사합니다 ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar